Senin, 12 September 2016

KISAH MASA KECILKU

Saya lahir di desa yang sejuk, Dengan alam yang masih bersih tanpa polusi seperti yang kini melanda kota-kota besar di Indonesia. saya hidup bersama orang-orang desa yang ramah dan tamah. Nama desa saya ialah Cinennung. Desa yang berada di kecamatan Pallakka, Kabupaten Bone, Sulawesi selatan. Desa saya ini, termasuk dari beberapa desa yang berada di pegunungan. Namun meski berada di pegunungan, sawah-sawah juga ada loh, bahkan setiap tahun keluarga kami selalu panen padi. Selain padi juga banyak perkebunan lain. Namun, mayoritas di Cinennung, orang-orang memilih kakao sebagai isi kebun mereka selain padi karena harga kakao cukup lumayan dan cepat berbuah sehingga banyak yang berminat. Di keluarga saya sendiri menjadikan kebun kakao sebagai sarana uang tambahan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari kami. Kalau untuk hasil sawah, tidak untuk kami jual melainkan kami simpan untuk persediaan selama setahun kedepan sampai musim hujan datang untuk kami menanam padi kembali.
Saya tiga bersaudara dari kedua saudaraku sayalah anak pertama, anak kedua atau adik pertamaku yaitu anak perempuan bernama Maulidia biasa dipanggil lidia. Ia diberi nama Maulidlia konon kata ibu saya karena ia lahir pada Hari atau Bulan Maulid. Sedangkan unttuk adik kedua saya adalah seorang anak laki-laki, namanya M. Dhika. Biasa saya atau keluarga saya panggil dengan naman Dika.
Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga, nama lengkapnya Suhaidah. Namun sering dipanggil oleh orang lain dengan nama Enda. Kalau saya sendiri memanggil dengan panggilan Emmak aja, hehe. Bapak saya adalah seorang yang sangat pekerja keras. Dia adalah seorang petani, seorang peternak, dan seorang pekerja swasta. Namanya adalah Arifin. Namun orang biasanya memanggil dengan nama Raping. Menurut saya, walaupun ayah saya hanya bekerja di hutan seperti di kebun, disawah, dan di ternak tapi pekerjaannya itu melebihi pekerja kantoran, kenapa? Karena sebagai seorang petani bukan hanya mengandalkan fisiknya untuk bekerja, namun juga harus berfikir bagaimana untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kebun yang ia kerjakan, atau mananejer waktu agar setiap hari smua pekerjaan selesai dengan tuntuas sampai waktu magrib. Mulai dari mengambil makanan ternak sapi, memeriksa keadaan sawah dan kebun, atau memberi pestisida jika terkena hama dan memberi pupuk agar lebih subur dan itu terus berlanjut setiap hari terus dan terus. Kapan dalam sehari tidak dikerjakan, maka ternak akan kelaparan, dan entah masalah apa lagi yang terjadi pada kebun jika tidak diperiksa.
Ibu saya, ada sepuluh bersaudara, konon katanya, ada sebelas namun seorang sudah meninggal. Dari sepuluh bersaudara itu, ada lima laki-laki dan lima perempuan. Menarik bukan? Keluarga ibu saya memanglah keluarga yang unik. Mulai dari lima laki-laki lima perempuan, juga anak pertama perempuan dan anak terakhir laki-laki. Dan yang paling menambah unik adalah, semua awalan nama lengkap mereka adalah huruf “S” hanya satu yang bukan S yaitu Zulkifli yang biasa dipanggil Iccang. Namun, dalam logat dan bahasa bugis, “Z” tetap diucapkan “S”. Adapun nama mereka antara lain, Sarianti, Suriani, Suleha, Suhaidah, Supu, Sulbi, Sopian, Susi, Z/Sulkifli, dan Syahrul Efendi. Tak hanya mereka bersaudara kedua orang tua ibu saya atau kakek nenek saya semua namanya berawal “S”, yaitu, Sitti dan Saraje. Mungkin itulah mengapa di rumah lama keluarga ibu saya ada tertulis huruf “S” di pintunya.
Lain halnya dengan bapak saya. Bahkan saya tidak tau berapa jumlah saudaranya. Yang aku tau hanya ada tiga orang, itupun yang tinggal di kampung saya yaitu kedua adik bapak saya, tante Kana dan om Badwi. Karena para saudara bapak saya sudah memilih untuk pergi merantau dan bahkan ada yang tak ada kabar sampai sekarang. Sedangkan Orang tua Bapak saya sudah lama meninggal. Almarhum Nenek saya bernama Jami’ konon kata bapak saya namanya adalah Jamilah. Wah berarti nenek saya dulu mungkin bunga desa kali ya, namanya saja cantik begitu, hehe. Menurut cerita bapak, nenek saya meninggal karena kakinya tertuduk kayu, entah bagaimana kejadiannya, namun sampai saat ini, saya hanya pernah melihat Fotonya. Ya, saat menceritakan ini, saya jadi pengen menangis karena rindu, bagaimana ya sosok nenek yang katanya sangat baik menurut cerita bapak saya itu. Berbeda halnya dengan Kakek saya, sewaktu kecil, saya masih bisa merasakan hidup bersama kakek. Namanya Paddise’ saya sering tidur bersama beliau dan suka memegang urat tangannya yang jelas menonjol karena kulitnya sudah sangat keriput. Yah, mudah-mudahan beliau melihat saya menceritakan ini dan datang menyapa saya walaupun hanya dalam mimpi, karena saya sangat rindu. Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang kakek saya.
Masuk sekolah SD
Setelah sekitar umur enam tahun, saya masuk sekolah di SD Negeri 23 Cinennung, sedang adik saya lidia masuk di sekolah tamak kanak-kanak (TK). Sekolah saya termasuk sekolah yang dulunya terbesar di kampung saya, bahkan bapak, dan ibu saya juga pernah sekolah di sekolah ini. Namun, lama-kelamaan jumlah siswa yang masuk semakin berkurang. Sekolah ini juga seperti tidak memiliki banyak kemajuan, hanya saja dari segi bangunan sudah sedikit renovasi. Gurunya pun kebanyakan guru honorer daripada guru PNS. Berbeda dengan sekolah SD INP 12/79 Cinennung, yang berada berseberangan dengan SDn 32. SD INP 12/79 berkembang dengan sangat pesat, bangunannya semakin bertambah, dan semakin cantik, muridnya pun selalu meningkat dari tahun ke-tahun.
Saat masa-masa sekolah dasar, saya selalu diberi uang jajan dari ibu saya, sebesar 200 rupia. Mungkin itu jumlah yang kecil sekali bahkan dari sebagian anak yang lain akan menolak jika ditawarkan uang jajan sekian. Namun, karena saya mengerti keadaan keluarga saya, makanya saya ikhlas menerima. Toh dengan uang 200 rupiah saya sudah bisa membeli es lilin satu, dan permen, itu sudah cukup untuk menahan sedikit rasa lapar ku sampai bel pulang berbunyi pada jam 10.00.
Hal yang tidak pernah aku lupa yaitu saat masuk sekolah. Dalam kelas, tema saya banyak yang tidak bisa membaca, sedangkan saya sudah bisa membaca sebelum saya masuk sekolah. Ini tidak lain berkat usaha ibu mendidik saya terus menerus sampai bisa membaca. Namun, akhirnya, saat pengumuman peringkat kelas, bukan saya yang menjadi peringkat pertama melainkan peringkat ke-empat. Naun, itu tidak jadi masalah buatku. Buatku kualitas itu bukan dilihat dari peringkatnya tapi dari hasilnya. Kenapa? Karena waktu itu teman saya yang mendapat peringkat pertama itu adalah cucu dari wali kelas ku waktu itu.
Selanjutnya saat kelas dua, saya mendapatkan peringkat ke 2, kelas tiga saya mendapat peringkat ke 1, kelas empat saya menurun lagi ke 3 dan seterusnya sudah tidak pernah lagi mendapat peringkat 1. Berbeda dengan adik saya, Lidia yang terus mendapat peringkat 1 dari kelas 1 sampai lulus SD.
Masuk sekolah SMP
Setelah lulus SD, saya masuk ke sekolah SMP yang berada satu atap dengan sekolah SD INP 12/79 Cinennung. Nama sekolah saya yaitu SMPN SATAP 4 Palakka. Kepala sekolah SMP saya itu juga adalah kepala sekolah dari SD INP. Beliau adalah seorang guru serta kepala sekolah yang sangat tegas menjalankan profesinya. Tak sedikit siswa yang melanggar peraturan mendapat hukuman berupa tamparan, tendangan, jeweran, dan bahkan dijemur di lapangan sekolah. Namanya adalah Pak Jufri, matanya tajam saat menatap. Suaranya bagai petir menyambar saat marah, bahkan tak ada seorang siswa yang berani bersuara saat beliau menerangkan. Tapi, saat beliau senyum siapa pun akan tersipu, saat beliau melucu, semua orang akan tertawa, dan saat beliau bercanda, semua wajah seram itu seakan sirnah. Begitulah beliau. Saat bertugas, beliau sangat tegas, namun saat diluar tugas beliau begitu humoris.
Saya mengenal sikap asli beliau berawal saat saya ikut kegiatan pramuka antara kabupaten seluruh sulawesi-selatan. Saya berdua dengan teman saya Nasli mewakili sekolah kami dan sekaligus mewakili kecamatan kami. Kami berangkat menggunakan mobil pak Jufri. Di dalam perjalanan, begitu banyak canda dan tawa antara kami. Disinilah saya kenal dengan sesosok yang sebelumya saya anggap tak punya senyum itu.
Di sekolah SMP saya ini, begitu banyak hal yang tidak dapat aku lupakan, saya pernah mewakili sekolah saya untuk pentas drama Monolog, yaitu teater dengan hanya satu pelaku dengan membawakan banyak peran atau karekter, ketika itu saya pentas di acara Hari Jadi Bone.
Setelah itu, tak lama. Guru saya lalu bekerjasama dengan teman-temannya di sanggar seni budaya yang ada di STAIN Watampone, untuk membuatkan filem sekolah. Berbagai alat dan persiapan pun sudah siap. Dan akhirnya saya yang menjadi pemeran utama dari filem tersebut. Nama tokoh yang saya perankan yaitu Obet. Obet adalah seorang anak yang berpresatasi di sekolah, dan sebagai teman yang baik bagi teman-temannya. Namun, ayahnya tiba-tiba menderita sakit dan akhirnya meninggal. Dari situ, Obet selalu menangis dan menjadi lebih tertutup dengan temannya, dia juga ingin berhenti bersekolah.
Setelah medapatkan pencerahan dan bujukan dari guru dan teman-temannya, akhirnya Obet kembali lagi ceria dan kembali masuk sekolah. saat kembali ke sekolah Obet kembali mengukir prestasi di sekolahnya. Begitulah ending dari filem yang saya perangi itu.
Selain itu, masih banyak lagi lomba kesenian yang saya ikuti, seperti teater kebangsaan yang menceritakan tentang pejuang raja-raja Bone yang saya pentaskan bersama teman-teman saya saat acara pramuka menjelang 17 Agustus. Tak jarang kami mendapat juara. Selain teater, saat itu, kami juga mementaskan vocal group antar sekolah se-kecamatan. Dan sekolah kami lagi-lagi mendapat juara. Setelah itu, saya tidak pernah lagi mengikuti acara perkemahan karena ingin fokus terhadap ujan Nasional sampai saya lulus SMP.

Bersambung...

KALIMAT PEMBUKA DARI SAYA


Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum dan salam kenal bagi anda yang menyempatkan diri membuka blog yang sederhana saya ini. Ini adalah tulisan pertama saya dalam blog ini. Blog yang saya khususkan hanya untuk memuat tentang profil saya, keseharian saya, dan tentang diri dan lingkungan saya. Semoga dengan ini, pembaca akan mengenal pribadi saya dan mengambil kebaikan dari apa yang saya muat di dalam blog profil saya ini. Dan jika ada yang mengganjal fikiran anda dari tulisan dan apapun yang saya muat, saya juga berharap agar anda bersedia memberikan komentar di kolom komentar. Saya siap menerima komentar anda untuk saya jadikan sebagai motivasi dan untuk membangun kualitas diri serta sebagai pelajaran jika misalnya saya memuat hal yang tidak baik.
Maka dari itu, ajaklah teman anda, keluarga anda, dan para kerabat anda untuk mengunjungi blog saya. Ups... hehe kayak promosi barang aja. Tapi, eh. Lebih bagus sih kalau memang anda mengajak mereka, hehe. Sekalian untuk memperkenalkan diri saya, siapa tau mereka juga turut memberikan komentar atau kita bisa berbagi ilmu, maksudnya sharing gitu.
Baiklah! Untuk sekedar kalimat pembukaan blog ini, dan sekaligus pengantar dari segala aktivitas saya nantinya dalam blog ini, mungkin hanya itu saja, memang sih terlalu singkat, tapi mudah-mudahan ini adalaj awal untuk kedepannya lebih aktif dalam segi menulis, karena memang saya bermimpi menjadi penulis.
Untuk kalimat penutup saya ucapkan kembali Wassalamualaikum. Dan sampai jumpa di postingan saya berikutnya. 

Ambon, 03:00 wit. 09/13/2016
di rumah tante saya (Suriani). Tepat di dalam kamar bersama kedua om saya, Zulkifli (Iccang) dan Syahrul Efendi (Pendi).