KISAH MASA KECILKU
Saya lahir di desa yang sejuk, Dengan alam yang masih bersih tanpa
polusi seperti yang kini melanda kota-kota besar di Indonesia. saya hidup
bersama orang-orang desa yang ramah dan tamah. Nama desa saya ialah Cinennung. Desa
yang berada di kecamatan Pallakka, Kabupaten Bone, Sulawesi selatan. Desa saya
ini, termasuk dari beberapa desa yang berada di pegunungan. Namun meski berada
di pegunungan, sawah-sawah juga ada loh, bahkan setiap tahun keluarga kami selalu
panen padi. Selain padi juga banyak perkebunan lain. Namun, mayoritas di
Cinennung, orang-orang memilih kakao sebagai isi kebun mereka selain padi
karena harga kakao cukup lumayan dan cepat berbuah sehingga banyak yang
berminat. Di keluarga saya sendiri menjadikan kebun kakao sebagai sarana uang
tambahan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari kami. Kalau untuk hasil sawah,
tidak untuk kami jual melainkan kami simpan untuk persediaan selama setahun
kedepan sampai musim hujan datang untuk kami menanam padi kembali.
Saya tiga bersaudara dari kedua saudaraku sayalah anak pertama, anak kedua
atau adik pertamaku yaitu anak perempuan bernama Maulidia biasa dipanggil
lidia. Ia diberi nama Maulidlia konon kata ibu saya karena ia lahir pada Hari
atau Bulan Maulid. Sedangkan unttuk adik kedua saya adalah seorang anak
laki-laki, namanya M. Dhika. Biasa saya atau keluarga saya panggil dengan naman
Dika.
Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga, nama lengkapnya Suhaidah. Namun
sering dipanggil oleh orang lain dengan nama Enda. Kalau saya sendiri memanggil
dengan panggilan Emmak aja, hehe. Bapak
saya adalah seorang yang sangat pekerja keras. Dia adalah seorang petani,
seorang peternak, dan seorang pekerja swasta. Namanya adalah Arifin. Namun orang
biasanya memanggil dengan nama Raping. Menurut saya, walaupun ayah saya hanya
bekerja di hutan seperti di kebun, disawah, dan di ternak tapi pekerjaannya itu
melebihi pekerja kantoran, kenapa? Karena sebagai seorang petani bukan hanya
mengandalkan fisiknya untuk bekerja, namun juga harus berfikir bagaimana untuk
menjaga dan meningkatkan kualitas kebun yang ia kerjakan, atau mananejer
waktu agar setiap hari smua pekerjaan selesai dengan tuntuas sampai waktu
magrib. Mulai dari mengambil makanan ternak sapi, memeriksa keadaan sawah dan
kebun, atau memberi pestisida jika terkena hama dan memberi pupuk agar lebih
subur dan itu terus berlanjut setiap hari terus dan terus. Kapan dalam sehari
tidak dikerjakan, maka ternak akan kelaparan, dan entah masalah apa lagi yang
terjadi pada kebun jika tidak diperiksa.
Ibu saya, ada sepuluh bersaudara, konon katanya, ada sebelas namun seorang
sudah meninggal. Dari sepuluh bersaudara itu, ada lima laki-laki dan lima
perempuan. Menarik bukan? Keluarga ibu saya memanglah keluarga yang unik. Mulai
dari lima laki-laki lima perempuan, juga anak pertama perempuan dan anak
terakhir laki-laki. Dan yang paling menambah unik adalah, semua awalan nama
lengkap mereka adalah huruf “S” hanya satu yang bukan S yaitu Zulkifli yang
biasa dipanggil Iccang. Namun, dalam logat dan bahasa bugis, “Z” tetap
diucapkan “S”. Adapun nama mereka antara lain, Sarianti, Suriani, Suleha,
Suhaidah, Supu, Sulbi, Sopian, Susi, Z/Sulkifli, dan Syahrul Efendi. Tak hanya
mereka bersaudara kedua orang tua ibu saya atau kakek nenek saya semua namanya
berawal “S”, yaitu, Sitti dan Saraje. Mungkin itulah mengapa di rumah lama
keluarga ibu saya ada tertulis huruf “S” di pintunya.
Lain halnya dengan bapak saya. Bahkan saya tidak tau berapa jumlah
saudaranya. Yang aku tau hanya ada tiga orang, itupun yang tinggal di kampung saya yaitu kedua adik bapak saya, tante Kana dan om Badwi. Karena para saudara bapak
saya sudah memilih untuk pergi merantau dan bahkan ada yang tak ada kabar
sampai sekarang. Sedangkan Orang tua Bapak saya sudah lama meninggal. Almarhum
Nenek saya bernama Jami’ konon kata bapak saya namanya adalah Jamilah. Wah berarti
nenek saya dulu mungkin bunga desa kali ya, namanya saja cantik begitu, hehe. Menurut
cerita bapak, nenek saya meninggal karena kakinya tertuduk kayu, entah
bagaimana kejadiannya, namun sampai saat ini, saya hanya pernah melihat
Fotonya. Ya, saat menceritakan ini, saya jadi pengen menangis karena rindu,
bagaimana ya sosok nenek yang katanya sangat baik menurut cerita bapak saya
itu. Berbeda halnya dengan Kakek saya, sewaktu kecil, saya masih bisa merasakan
hidup bersama kakek. Namanya Paddise’ saya sering tidur bersama beliau dan suka
memegang urat tangannya yang jelas menonjol karena kulitnya sudah sangat
keriput. Yah, mudah-mudahan beliau melihat saya menceritakan ini dan datang
menyapa saya walaupun hanya dalam mimpi, karena saya sangat rindu. Tak banyak
yang bisa saya ceritakan tentang kakek saya.
Masuk sekolah SD
Setelah sekitar umur enam tahun, saya masuk sekolah di SD Negeri 23
Cinennung, sedang adik saya lidia masuk di sekolah tamak kanak-kanak (TK). Sekolah
saya termasuk sekolah yang dulunya terbesar di kampung saya, bahkan bapak, dan
ibu saya juga pernah sekolah di sekolah ini. Namun, lama-kelamaan jumlah siswa
yang masuk semakin berkurang. Sekolah ini juga seperti tidak memiliki banyak
kemajuan, hanya saja dari segi bangunan sudah sedikit renovasi. Gurunya pun
kebanyakan guru honorer daripada guru PNS. Berbeda dengan sekolah SD INP 12/79
Cinennung, yang berada berseberangan dengan SDn 32. SD INP 12/79 berkembang
dengan sangat pesat, bangunannya semakin bertambah, dan semakin cantik,
muridnya pun selalu meningkat dari tahun ke-tahun.
Saat masa-masa sekolah dasar, saya selalu diberi uang jajan dari ibu saya,
sebesar 200 rupia. Mungkin itu jumlah yang kecil sekali bahkan dari sebagian
anak yang lain akan menolak jika ditawarkan uang jajan sekian. Namun, karena
saya mengerti keadaan keluarga saya, makanya saya ikhlas menerima. Toh dengan
uang 200 rupiah saya sudah bisa membeli es lilin satu, dan permen, itu sudah cukup untuk menahan sedikit rasa lapar ku
sampai bel pulang berbunyi pada jam 10.00.
Hal yang tidak pernah aku lupa yaitu saat masuk sekolah. Dalam kelas, tema
saya banyak yang tidak bisa membaca, sedangkan saya sudah bisa membaca sebelum
saya masuk sekolah. Ini tidak lain berkat usaha ibu mendidik saya terus menerus
sampai bisa membaca. Namun, akhirnya, saat pengumuman peringkat kelas, bukan
saya yang menjadi peringkat pertama melainkan peringkat ke-empat. Naun, itu
tidak jadi masalah buatku. Buatku kualitas itu bukan dilihat dari peringkatnya
tapi dari hasilnya. Kenapa? Karena waktu itu teman saya yang mendapat peringkat
pertama itu adalah cucu dari wali kelas ku waktu itu.
Selanjutnya saat kelas dua, saya mendapatkan peringkat ke 2, kelas tiga
saya mendapat peringkat ke 1, kelas empat saya menurun lagi ke 3 dan seterusnya
sudah tidak pernah lagi mendapat peringkat 1. Berbeda dengan adik saya, Lidia yang
terus mendapat peringkat 1 dari kelas 1 sampai lulus SD.
Masuk sekolah SMP
Setelah lulus SD, saya masuk ke sekolah SMP yang berada satu atap dengan
sekolah SD INP 12/79 Cinennung. Nama sekolah saya yaitu SMPN SATAP 4 Palakka. Kepala
sekolah SMP saya itu juga adalah kepala sekolah dari SD INP. Beliau adalah
seorang guru serta kepala sekolah yang sangat tegas menjalankan profesinya. Tak
sedikit siswa yang melanggar peraturan mendapat hukuman berupa tamparan,
tendangan, jeweran, dan bahkan dijemur di lapangan sekolah. Namanya adalah Pak
Jufri, matanya tajam saat menatap. Suaranya bagai petir menyambar saat marah, bahkan
tak ada seorang siswa yang berani bersuara saat beliau menerangkan. Tapi, saat
beliau senyum siapa pun akan tersipu, saat beliau melucu, semua orang akan
tertawa, dan saat beliau bercanda, semua wajah seram itu seakan sirnah. Begitulah
beliau. Saat bertugas, beliau sangat tegas, namun saat diluar tugas beliau
begitu humoris.
Saya mengenal sikap asli beliau berawal saat saya ikut kegiatan pramuka
antara kabupaten seluruh sulawesi-selatan. Saya berdua dengan teman saya Nasli
mewakili sekolah kami dan sekaligus mewakili kecamatan kami. Kami berangkat
menggunakan mobil pak Jufri. Di dalam perjalanan, begitu banyak canda dan tawa
antara kami. Disinilah saya kenal dengan sesosok yang sebelumya saya anggap tak
punya senyum itu.
Di sekolah SMP saya ini, begitu banyak hal yang tidak dapat aku lupakan,
saya pernah mewakili sekolah saya untuk pentas drama Monolog, yaitu teater
dengan hanya satu pelaku dengan membawakan banyak peran atau karekter, ketika
itu saya pentas di acara Hari Jadi Bone.
Setelah itu, tak lama. Guru saya lalu bekerjasama dengan teman-temannya di
sanggar seni budaya yang ada di STAIN Watampone, untuk membuatkan filem
sekolah. Berbagai alat dan persiapan pun sudah siap. Dan akhirnya saya yang
menjadi pemeran utama dari filem tersebut. Nama tokoh yang saya perankan yaitu
Obet. Obet adalah seorang anak yang berpresatasi di sekolah, dan sebagai teman
yang baik bagi teman-temannya. Namun, ayahnya tiba-tiba menderita sakit dan
akhirnya meninggal. Dari situ, Obet selalu menangis dan menjadi lebih tertutup dengan
temannya, dia juga ingin berhenti bersekolah.
Setelah medapatkan pencerahan dan bujukan dari guru dan teman-temannya, akhirnya Obet kembali lagi ceria dan kembali masuk sekolah. saat kembali ke sekolah Obet kembali mengukir prestasi di sekolahnya. Begitulah ending dari filem yang saya perangi itu.
Setelah medapatkan pencerahan dan bujukan dari guru dan teman-temannya, akhirnya Obet kembali lagi ceria dan kembali masuk sekolah. saat kembali ke sekolah Obet kembali mengukir prestasi di sekolahnya. Begitulah ending dari filem yang saya perangi itu.
Selain itu, masih banyak lagi lomba kesenian yang saya ikuti, seperti teater kebangsaan
yang menceritakan tentang pejuang raja-raja Bone yang saya pentaskan bersama
teman-teman saya saat acara pramuka menjelang 17 Agustus. Tak jarang kami
mendapat juara. Selain teater, saat itu, kami juga mementaskan vocal group antar sekolah se-kecamatan. Dan
sekolah kami lagi-lagi mendapat juara. Setelah itu, saya tidak pernah lagi
mengikuti acara perkemahan karena ingin fokus terhadap ujan Nasional sampai
saya lulus SMP.
Bersambung...